Jadikan Departemen Pemadam Kebakaran sebagai Lembaga Departemen

Jadikan Departemen Pemadam Kebakaran sebagai Lembaga Departemen

Jadikan Departemen Pemadam Kebakaran sebagai Lembaga Departemen

Sejarah Korps Api Indonesia

Pemadam kebakaran di Indonesia benar-benar ada mengingat saat Hindia Belanda. Seiring dengan kewenangannya, mereka disebut-sebut sebagai lembaga keamanan elit kota. Berdasarkan catatan pemandu dari BRANDWEER ke Pemadam Kebakaran Jakarta, pemerintah federal Hindia Belanda mulai membangun sistem kebakaran pada tahun 1873. Korps ini awalnya disebut Brandweer. Mengembangkan penanganan masalah kebakaran di Jakarta, yang secara hukum dikembangkan oleh Residen Batavia melalui ketentuan Reglement op de Brandweer di tempat Afdeeling Vorstenden Van Batavia.

Kebakaran besar di kota Kramat-Kwitang sebagai sumber pandangan beleid ini. Bencana tidak bisa diatasi oleh pemerintah daerah. Kemudian pada tanggal 25 Januari 1915 muncul hukum pemadam kebakaran, the Reglement op de Brandweer. Awalnya brandweer tidak memiliki perwira yang tidak dapat dipulihkan saat proposisi muncul pada awal tahun 1800an. Baru pada tahun 1850-an, firem utama utama diciptakan Jadikan Departemen Pemadam Kebakaran sebagai Lembaga Departemen.

Peralatan mereka saat itu benar-benar banyak beragam mulai hari ini serta tidak adanya Agen Judi Bola – Agen Bola – Situs Judi Bola Online. Dulu tidak ada mobil tangki penyimpanan termasuk air kubik. Alat pemadam kebakaran dulu hanya memiliki tangga, buku semprotan air tangan, dan jas hujan seperti helm, bukan tahan api. Pencocokan api digunakan untuk mengamankan tubuh dari air, bukan dari api.

Dikatakan bahwa orang Betawi juga tidak dapat dibagi dari latar belakang pembentukan brigade pemadam kebakaran ini. Buktinya adalah prasasti Perang Peringatan Warning Brandweer 1919-1929, yang ditawarkan oleh sekelompok individu Betawi sebagai tanda kekaguman dan juga rasa syukur atas darma yang didedikasikan untuk para pemanggil. Prasasti ini sampai sekarang tersimpan di tempat kerja Pemadam Kebakaran Jakarta

Jadikan Departemen Pemadam Kebakaran sebagai Lembaga Departemen

Dari suara ukiran, terutama pada penambahan nomor 1919-1929 dan juga menunjukkan paragraf kedua, pada awal maupun baris kedua dipikirkan bukti asli, maka pada 1 Maret 1919 didirikan sebagai tahun pembentukan Badan Pemadam Kebakaran Jakarta. Bukti di atas diperkuat dari data dalam sebuah buku dari Batavia Branweer kepada Pemadam Kebakaran Jakarta, yang menentukan bahwa ketika sampai pada kebakaran besar yang belum diselesaikan pada tahun 1913, setelah itu pada tahun 1919 walikota batako pada waktu itu mulai merestrukturisasi tugas pemadam kebakaran, yang dicatat oleh pendirian tempat kerja Brandeller Batavia di lokasi Gambir sekarang. Modifikasi berikutnya terjadi pada tanggal 31 Juli 1922 melalui sebuah pengaturan yang disebut “Bataviasch Brandweer Reglement”, dan kemudian mengikuti perubahan berikutnya, yaitu setelah peraturan Jepang, penyesuaian tersebut direkam pada tanggal 20 April 1943 melalui sebuah ketentuan yang disebut sebagai “Osamu seirii No.II “tentang” Syoobootai “(petugas pemadam kebakaran).

Sejak pendiriannya, perusahaan telah benar-benar melakukan banyak perkembangan. Nama Pemadam Kebakaran (BPK) digunakan dalam durasi 1969 – 1974. Tidak terbatas pada nama baru, namun pekerjaannya juga meningkat dengan dibentuknya Bagian Pencegahan. Dengan melakukan hal ini, perusahaan juga memiliki tanggung jawab untuk mengambil jaring pemadam kebakaran.

 

Modifikasi nama dilakukan dalam durasi 1975-1980. Selama waktu itu kata “pemadam” dieliminasi dengan tujuan untuk meningkatkan tugas organisasi. Jadi menjadi Fire Service. Dalam prakteknya di setiap wilayah di Indonesia, perusahaan ini berada di bawah pemerintah kota atau kabupaten.

Sebagaimana diatur dalam UU No. 23 2014 tentang Pemerintahan Daerah dan UU No. 24 2OO7 Tentang Penanggulangan Bencana. Kedua peraturan tersebut menyebutkan bahwa pemerintah federal dan juga pemerintah federal setempat bertanggung jawab atas pelaksanaan malapetaka serta administrasi pemadam kebakaran. Oleh karena itu, daerah ini didorong untuk menciptakan sebuah pendirian yang bertanggung jawab atas bencana serta peristiwa kebakaran.

Pekerjaan utama dan fungsi pemadam kebakaran dikenal dengan nama Panca Darma, yaitu:

Pencegahan dan Pengendalian Kebakaran;
Pertempuran api;
Menyelamatkan;
Pemberdayaan masyarakat;
Penanganan Kebakaran Bahan Berbahaya dan Beracun.

Dengan kekuatan dan beban kerja, yang harus selalu siap setiap 1 x 24 jam Petugas Pemadam Kebakaran sangat masuk akal menjadi salah satu Korps elit di Biro Urusan Sipil di bawah Kementerian Dalam Negeri. Banyak sekali target peserta yang hadir. meninggal di lapangan api yang hanya satu Sulistyo Putranto, meninggal dunia dari terjatuh terjatuh saat terjadi kebakaran di tempat yang padat di Jembatan Besi. Selama ini, pertarungan api dilakukan oleh petugas gabungan dari Jakarta Barat dan Jakarta Pusat. Dan banyak lagi nama petugas pemadam kebakaran dari daerah lain yang tidak bisa ditunjukkan secara terpisah dan Jadikan Departemen Pemadam Kebakaran sebagai Lembaga Departemen.

Simpang siur

Di tengah banyak tekanan untuk selalu waspada sekaligus berjuang dengan saat prosedur pemadaman listrik, banyak keluhan dan ketidakpastian merupakan masalah bagi Institusi ini. Baik dari sisi informasi negatif, dan kesejahteraan yang memuaskan masih jauh dari asumsi. Tidak jelas mengenai manfaat kesehatan, keamanan kerja dan juga gaji pokok yang tidak beraturan dan juga jauh dari kata berkembang kawasan satu sama lain membuat firefighting organization hanyalah sebuah profesi yang menyeramkan serta jarang dicita-citakan oleh masyarakat luas. rekrutmen karyawan yang kompeten dan profeaional.Selain dari stigma budaya yang kurang diminati pula perhatian standar gaji serta kualitas masa pensiun.

Serta struktur organisasi yang biasanya berubah, sering berubah dari satu lembaga ke lembaga lain dan juga tidak diselesaikan dari masa lalu sebelumnya. Sebagaimana dinyatakan dalam Permen No. 18 tahun 2016, Pemadam Kebakaran termasuk dalam acara wajib Pemerintah di bidang keharmonisan dan ketertiban umum dan juga pembelaan lingkungan sekitar, namun beberapa daerah tidak memiliki independensi di pihak berwenang mereka sendiri. serta administrasi anggaran. Banyak petugas pemadam kebakaran sulit untuk menganggap tanggung jawab mereka sesuai dengan peraturan tersebut dengan batasan tersebut. Persis bagaimana mereka bisa tetap di atas memperluas serta meningkatkan kepadatan ketebalan rumah tangga? Mereka merasa seperti anak tiri dibandingkan dengan perusahaan lain. Ini sangat disayangkan, karena pendirian yang terbentuk jauh sebelum kemerdekaan Indonesia, tidak begitu penting dibandingkan dengan berbagai perusahaan lain.

Berharap

Dari ringkasan singkat dan juga deskripsi singkat tentang Jadikan Departemen Pemadam Kebakaran sebagai Lembaga Departemen, sangat tepat bagi Pemerintah untuk memberikan kekaguman pada pembentukan organisasi sipil. Berarti kesejahteraan dan kepastian hukum ditingkatkan dan juga bagi para pekerja sukarelawan altruistik ini. Kontribusi tersebut cukup memadai dalam memberikan solusi untuk menciptakan perdamaian serta keselamatan dan keamanan masyarakat sebagai perpanjangan tangan negara dalam melayani individu-individu. Harapan sebagian besar peserta hanyalah gratifikasi / relawan, membuat institusi ini memiliki kerangka perintah pusat, bervariasi dari tingkat pastoral sampai tingkat lokal (daerah / kota) untuk mengembangkan kesejahteraan yang setara.